Warisan Mozaik Sejarah ala Gus Dur

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggalkan warisan 25 kolom sejarah untuk Indonesia. Narasi sejarah dalam buku ini membuktikan antusiasme Gus Dur memikirkan negeri dalam tarikan historis dan membayangkan masa depan Indonesia. Sejarah mengandung hikmah. Gus Dur pun membongkar kembali fragmen-fragmen penting dalam sejarah nusantara untuk ditafsirkan dalam bentangan reflektif. Mozaik sejarah itu diletakkan Gus Dur dalam pelbagai ruang politik, sosial, ekonomi, agama, seni, dan kultural. Pekerjaan menguraikan sejarah memang berat. Gus Dur pun memiliki mekanisme unik untuk menarasikan sejarah dengan enteng, tapi berbobot.

Sistematika dan metodologi adalah urusan dari para pakar sejarah. Gus Dur memilih memetik fragmen-fragmen signifikan dengan model uraian cair dan multiperspektif. Sejarah memiliki peran penting menentukan nasib negeri, kendati dalam pelbagai catatan ada cacat atau pembelokan. Gus Dur memahami peran itu, tapi tak mengabaikan tafsiran inklusif.

Kekuasaan

Sejarah kerap dijadikan alat legitimasi politik. Ungkapan ini dipahami Gus Dur sebagai antusiasme penguasa mengonstruksi kekuasaan dengan pembentukan atau produksi kebenaran melalui sejarah. Manipulasi atau pemberian tafsir tunggal mungkin dilakukan untuk menjamin kelanggengan kekuasaan atau meraih aura.

Gus Dur melacak pola ini dalam sejarah kekuasaan Jawa. Para penguasa di Jawa identik dengan kesadaran sejarah dan strategi “memeralat” sejarah atas nama kekuasaan. Ulah ini kadang dilakukan karena kebutuhan untuk menjaga stabilitas kekuasaan dari rongrongan lawan, pemberontakan, atau ketidakpercayaan rakyat.

Sejarah kekuasaan memiliki wajah ganda. Penokohan seorang penguasa kadang mengabaikan wajah ganda itu demi alasan-alasan tertentu. Gus Dur justru memilih untuk menampilkan wajah ganda untuk pemahaman utuh mengenai biografi penguasa dan lakon politik pada masa lalu. Gus Dur mengajukan contoh; Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Tokoh ini kondang karena dianggap sebagai penguasa pemersatu negeri dengan realisasi kesejahteraan rakyat.

Sisi lain dari tafsir positif ini adalah ketidaksanggupan Sultan Agung untuk melepaskan diri dari kungkungan tradisi yang didera oleh sistem kekuasaan tanpa bisa berkutik. Pengisahan sejarah ini diperlukan agar publik mengetahui profil penguasa dan riwayat kekuasaan dalam keutuhan dan multiperspektif.

Pengetahuan sejarah Gus Dur memang seperti memuncak dalam 25 kolom di buku ini, karena ada antusiasme mengurusi hal-hal sepele sampai hal-hal pelik. Gus Dur menginginkan pembacaan sejarah tidak mesti diskriminatif dengan memilih tema-tema mayor saja.

Pembahasaan atas sejarah pun tidak mesti kaku atau sekadar memenuhi standar ilmiah.Gus Dur memilih pendekatan intim dengan ulang-alik dari sejarah masa lalu ke kondisi kekinian dan kemungkinan membayangkan masa depan. Pola ini memerlukan alur pikiran lincah dan bahasa elegan agar pembaca bisa melakukan jelajah tanpa lelah.

Mozaik

Penguasaan Gus Dur atas bentangan sejarah nusantara dibuktikan dengan perhatian atas lakon sejarah Majapahit, Mataram, Batavia, Makassar, Banten, Sriwijaya, Minangkabau,Papua, Maluku, dan Eropa. Tema-tema pilihan Gus Dur juga beragam: kekuasaan,toleransi agama, etnisitas, demokrasi, bahasa, gerakan politik, gerakan agama, pertanian, LSM, gender, maritim, dan moralitas.

Penguasaan materi ini tentu dimiliki Gus Dur dengan pembelajaran intensif melalui pembacaan buku,diskusi,atau kunjungan ke pelbagai situs sejarah. Gus Dur dalam sisi ini tampil sebagai intelektual peka sejarah. Modal ini memberikan kontribusi untuk proyek penulisan sejarah nusantara secara komprehensif.

Gus Dur dalam kesanggupan menghadirkan pelbagai referensi dari Centhini sampai A Study of History susunan Arnold Toynbee merasa ada keganjilan ketika harus mengisahkan sejarah tanpa jejak literatur. Keterbatasan ini akibat dari ketidaksadaran penulisan sejarah pada masa lalu. Konsekuensi dari kealpaan ini adalah pelacakan dan penyingkapan sejarah melalui sumber-sumber lisan.

Kesahihan sumber lisan ini kadang diragukan, tapi juga membuka kemungkinan untuk memunculkan perbandingan kritis dengan sumber tertulis meski terbatas. Gus Dur menjelaskan: “Kemampuan melakukan rekonstruksi (sejarah) secara lengkap bersandar pada cerita-cerita fiktif dan aktual sekaligus harus dimiliki oleh mereka yang ingin menuliskan sejarah tempat-tempat tertentu.”

Usulan ini diajukan karena Gus Dur sadar ada kemiskinan sumber sejarah untuk memerkarakan pengetahuan atas Kerajaan Kutai, Kerajaan Bacan, Kerajaan Ternate,Kerajaan Tidore, dan Kerajaan Keilolo. Kondisi itu mesti disikapi oleh para ahli sejarah dengan ketekunan menggarap penulisan sejarah dengan penelusuran melalui pelbagai jalan dan prosedur tanpa mengabaikan akurasi dan kesahihan.

Buku ini adalah sumbangan penting Gus Dur. Publik patut mengapresiasi warisan ini secara konstruktif dan kritis. Narasi sejarah Gus Dur kadang gamblang dan memukau, tapi ada esai-esai tertentu mengesankan keterbatasan Gus Dur dalam mengolah sumber informasi dan tidak lihai dalam analisis.

Buku ini bukti dari kesanggupan Gus Dur sebagai ulama, intelektual, dan mantan penguasa (presiden) yang bisa hadir dalam wacana sejarah melalui tulisantulisan pendek dan reflektif. Ikhtiar menulis ini menjadi keunggulan dari biografi keintelektualan Gus Dur karena sanggup melawan kemalasan dan kecanggungan.